Rabu, 20 Desember 2017

Aksara Jawi, Terengah-Engah Di Tengah Modernisasi

Ilustrasi seseorang yang menulis
dalam huruf Jawi
Hidup di tengah nuansa modern saat ini, tentunya pengaruh budaya Barat sangat terasa. Bahkan dalam bidang literasi dan kesusasteraan di Indonesia saja, masih sangat besar didominasi oleh kebudayaan Barat. Tengok saja, bagaimana kita menuliskan kata demi kata dalam bahasa ibu kita sendiri. Ya, tulisan Latin. Dengan begini, literasi meningkat, namun di lain pihak ada jenis literasi lain yang menurun. Yakni khazanah kebudayaan sendiri yang dahulu pernah berjaya, kini perlahan terlupakan, yakni sistem tulisan tradisional. Ada banyak sistem tulisan tradisional di sepanjang Bumi Katulistiwa ini. Dari Tulisan Incung, Surat Ulu, Lampung, Sunda, Jawa, Bali, Lontara, Mbojo, dan lain sebagainya. Namun, semuanya tengah megap-megap di tengah banjir dan hantaman literasi Latin. Begitu pula dengan Jawi... Atau lebih dikenal sebagai Arab-Melayu...


Hikayat Merong Mahawangsa
dalam tulisan Jawi(Pinterest)
Budaya Arab sangat kental pertaliannya dengan agama Islam. Ya, itu tak dapat disangkal. Begitu pula dengan awal kemunculan tulisan Jawi di Nusantara. Tulisan Jawi (توليسن جاوي) telah dikenal oleh berbagai bangsa dan suku di Nusantara dan digunakan untuk menuliskan beragam bahasa, seperti Aceh, Melayu, Tausug, Minangkabau, Jawa dan Sunda (dengan varian Pegon), dan Banjar. Karena bahasa Melayu telah menjadi bahasa regional kawasan Nusantara (Indonesia-Malaysia-Singapura-Brunei), penggunaan aksara ini sangat luas pada beragam bidang, dari yang membicarakan masalah perdagangan hingga agama. Saya sendiri saat masih di Bali pernah melihat seberkas surat kepada seorang raja di Bali (seingat saya Raja Buleleng, mohon koreksi bila ada kekeliruan), ditulis dalam aksara Jawi menggunakan bahasa Melayu, berisikan tentang perdagangan. Surat tersebut dulu disimpan dalam kotak kaca dekat pintu masuk di Perpustakaan Daerah Provinsi Bali. Dengan demikian, tak ayal keberadaan tulisan Jawi (atau di Indonesia dikenal sebagai Arab-Melayu) merupakan salah satu khazanah budaya bangsa yang sangat berharga.

Sebagaimana tulisan turunan aksara Arab, maka tentu saja terdapat beragam penyesuaian. Sebab, dalam bahasa Arab hanya terdapat 3 vokal saja (A, I, U) sementara itu dalam bahasa Melayu terdapat 6 vokal (A, I, U, É, O, E). Belum lagi dengan inventori konsonannya, ada Ca چ, Pa ڤ, Ga ݢ, Nga ڠ, dan Nya ڽ yang tidak terdapat dalam bahasa Arab. Dengan pengaruh Persia, maka tulisan Arab bertransformasi dengan penambahan set huruf maupun pengubahsuaian fungsi harakat (terutama untuk Pegon). Dengan demikian, jadilah set huruf Jawi seperti di bawah berikut:

Setelah perkembangan zaman, huruf Va ۏ pun dimasukkan dalam set tulisan Jawi. Sehingga, lengkapnya tulisan Jawi kini telah memiliki 37 set huruf. Sementara itu, huruf Pegon yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, terdapat 2 huruf tambahan yakni tha dan dha.

Dengan demikian, lengkaplah sudah set huruf-huruf yang diperlukan untuk menulis bahasa Melayu (dan juga Jawa). 

Mengenai aturan penulisan huruf Jawi ini cukuplah mudah. Tinggal pasangkan huruf-hurufnya saja, maka dapatlah dieja kata-katanya. Aturan umum yang harus diingat adalah:
  • Huruf alif (ا) digunakan untuk menandai bunyi A, pada suku kata tertutup umumnya tidak ditulis.
  • Huruf ya (ي) digunakan untuk menandai bunyi I, É, atau Y.
  • Huruf waw (و) digunakan untuk menandai bunyi U, O, atau W.
  • Huruf alif maskurah (ى) dalam ejaan Jawi Malaysia digunakan untuk menandai bunyi E di akhir kata (seperti ide ايدى) 
  • Huruf I dan E bila di awal kata ditulis dengan kombinasi alif+ya (seperti ibu ايبو, induk ايندوق, elak ايلق), sedangkan huruf U atau O di awal kata ditulis dengan kombinasi alif+waw (seperti obat اوبت, ongkos اوڠكوس, upeti اوڤتي, usaha اوساها)
  • Bunyi K mati pada kata asli bahasa Melayu, ditulis dengan huruf qaf (ق), sedangkan bila diserap dari bahasa asing, seperti Inggris, digunakan huruf kaf (ك). Contoh: bapak باڤق, banyak باڽق, dampak دمڤق, tampuk تمڤوق, kapak كاڤق, elektronik ايليكترونيك, akustik اكوستيك, semantik سمنتيك.
  • Huruf hamzah digunakan untuk memisahkan dua huruf vokal, seperti: air اءير, aur اءور, pauh ڤاءوه, lain لاءين.
  • Huruf hamzah digunakan bila kata dasar berawalan/berakhiran vokal diberikan imbuhan, seperti: peranakan ڤرأنكن, sangkaan سڠكاءن.
  • akhiran -ka atau -ga sering ditulis sebagai (ك-) atau (ݢ-) saja tanpa ada alif yang menyertai. Contoh: ketika كتيك, tiga تيݢ, seka سك, peka ڤك, laga لاݢ, raga راݢ. Bila ada keambiguan, alif tersebut dapat ditulis, seperti: akustik اكوستيك dan akustika اكوستيكا.
  • Kata ulang dapat ditulis utuh dengan tanda "-", atau dengan memberi angka ٢. Contoh: anak-anak انق٢ atau انق-انق, ibu-ibu ايبو٢ atau ايبو-ايبو, berbangsa-bangsa بربڠسا٢ atau بربڠسا-بڠسا. Umumnya, pada tulisan lama sering dipakai angka ٢.
  • Beberapa kata lainnya tidak mengikuti pedoman tersebut, melainkan telah lazim digunakan sejak masa silam, seperti: ini اين, itu ايت, lima ليم, kita كيت, pada ڤد, dari دري, di د, daripada دريڤد, demikian دمكين.
  • Kata yang diserap dari bahasa Arab umumnya ejaannya mengikuti ejaan dalam bahasa Arab bila tanpa diberi imbuhan. Seperti: ulama علماء, syariat شرعة, arif عارف, alim عالم, ilmu علم atauعلمو, fardu فرض  atauفرضو, salat صلاة, wudu وضوء. Bila sudah diberi imbuhan, terdapat sedikit penyesuaian ejaan, biasanya penambahan alif, waw, atau ya atau perubahan huruf. Seperti: disalatkan دصلاتكن, kearifan كعاريفن, keilmuan كعلموان, peribadatan ڤرعبادتن.
Untuk mencoba lebih memahami bagaimana tulisan Jawi itu seutuhnya, berikut di bawah ini saya tampilkan beberapa tulisan Jawi beserta alih aksaranya dalam aksara Latin.

Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan (UDHR Pasal 1)

سموا اورڠ دلاهيركن مرديك دان ممڤوڽاؤي مرتبة دان حق٢ يڠ سام. مريك دكارونياؤي عقل دان هاتي نوراني دان هندقڽ برݢاول ساتو سام لاءين دالم سماڠت ڤرساوداراءن (او.د.ه.ر. ڤاسل 1

Hingga kini ejaan Jawi masih sangat beragam, terutama di Indonesia. Belum ada standar baku pengejaan yang tepat untuk menuliskan ejaan-ejaan tersebut. Hal ini ditambah sedikitnya generasi muda Indonesia yang benar-benar paham dalam pembacaan aksara Jawi. Kecuali mereka-mereka yang terbiasa membaca huruf Pegon di pesantren atau yang berlatar belakang kebudayaan Melayu yang cukup kuat.

Di Malaysia sendiri, Jawi telah berusaha dibakukan. Jawi pun juga telah menjadi salah satu ejaan resmi di negara Brunei Darussalam. Namun, ejaan Jawi yang digunakan sangat dipengaruhi oleh sistem tulis Rumi (Latin) yang juga merupakan tulisan resmi kedua negara tersebut. Hal ini sangat bertolak belakang di Indonesia, yang hingga kini belum diadakannya usaha standardisasi tulisan Jawi. Apalagi penggalakan literasi-literasi Jawi dalam media digital maupun buku.

Tulisan Jawi kini seperti nyaris tenggelam di tengah arus modernisasi. Begitu pula dengan sistem tulisan tradisional lainnya di Bumi Indonesia. Kita patut berbangga memiliki beragam khazanah kebudayaan tradisional, namun sayangnya generasi muda jarang yang berminat. Padahal, khazanah sistem tulis tradisional Asia sangat kuat dipertahankan di berbagai negara, sebut saja aksara Thai, Laos, Burma, beragam aksara di India, Cina, Korea, dan Jepang. 

Semoga dengan era globalisasi sekarang ini, tulisan Jawi mampu beradaptasi dan dapat mewarnai perkembangan zaman kembali, seperti pada masa jaya-jayanya....

Tidak ada komentar: