Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 18 Januari 2013

2013 Dibuka dengan Banjir di Jakarta

Masih dalam suasana tahun baru, awal bulan baru, Jakarta, ibukota Indonesia mengalami banjir yang cukup parah. Sebuah realita klasik sebuah dinamika Ibukota Jakarta.  Banjir ini diakibatkan oleh siklon tropis Naselle di Australia utara. Akibatnya, tiupan angin kencang dan intensitas hujan yang tinggi terjadi secara merata dari Aceh hingga Papua. Intensitas hujan yang tinggi juga penulis rasakan di Kota Hujan, bersamaan dengan angin yang kencang. Akibatnya, beberapa tempat di Bogor juga tergenang banjir, seperti daerah perempatan ke Cibinong, air masuk ke dalam terowongan. Di daerah Dramaga, sekitar kampus IPB derasnya hujan menyebabkan beberapa titik di kampus tergenang air cukup tinggi seperti di Yellow Corner, dan belakang perpustakaan (jalan tembus ke FPIK). Topografi kampus yang berbukit dan saluran air yang baik tidak menyebabkan genangan air meluas. Walaupun banjir tidak meluas di Kota Bogor, terjadi longsor di beberapa titik.

Limpahan air hujan dengan debit yang besar segera memenuhi sungai-sungai. Dua sungai utama yang membelah kota Bogor pun segera mengirimkan debit air yang sangat banyak. Secara sistem DAS, seharusnya Kota Bogor bertindak sebagai daerah penyangga resapan jatuhan air, terutama daerah Puncak. Namun, konversi lahan hijau menjadi villa-villa mewah di Puncak membuat berubahnya fungsi dan kekuatan serapan tanah di Puncak. Tercatat, terjadi longsor di salah satu villa di Puncak. Karena daerah serapan hulu kurang maksimal, air akan mudah mengalir tanpa adanya tahanan resapan. Inilah yang menyebabkan intensitas hujan sedang dapat menyebabkan debit air meninggi dengan cepat.

Jakarta sejak zaman penjajahan Belanda memang pernah terjadi banjir besar. Pemerintah kolonial Belanda menyadari hal itu, sehingga dibuatlah berbagai situ di sekitar Jakarta dan di Jakarta itu sendiri. Kanal-kanal baru dibuat dan juga daerah limpahan air. Pihak Belanda menyadari aspek lingkungan kota Jakarta. Jakarta adalah daerah limpahan air dari Bogor, sehingga tidak tepat apabila tidak dibangun kanal dan situ pada masa tersebut. Jakarta kontemporer telah menggusur peninggalan Belanda yang begitu penting dari segi historis dan aspek lingkungannya. Beberapa situ telah menyempit menjadi lahan hunian. Bahkan pantai pun tidak luput menjadi incaran pengusaha properti. Karena terdesak akan kebutuhan papan, masyarakat ekonomi menengah ke bawah tingga di daerah-daerah yang rawan banjir. Penyempitan badan aliran sungai dan sedimentasi memperparah banjir yang akan terjadi sewaktu-waktu.

Terjadinya banjir besar rupanya tidak mengubah paradigma kebersihan dan sanitasi badan sungai. Masyarakat dari hulu ke hilir beramai-ramai membuang sampah limbahnya ke sungai. Akibatnya pendangkalan sungai mau tidak mau pasti terjadi. Akibatnya, limpahan air dengan debit besar tidak mampu ditampung sungai. Sungai gagal memerankan fungsi utamanya sebagai pengalih aliran air menuju muara. Air pun meluap ke bantaran sungai. Penurunan muka tanah Jakarta memperparah kondisi banjir Jakarta kontemporer.

Banjir Jakarta adalah memang sudah "takdir alam" yang tidak dapat diubah. Jakarta memang berada pada daerah DAS akhir aliran sungai dan rawan terkena dampak banjir. Hingga kapan pun, persoalan banjir Jakarta tak akan usai karena Jakarta memang berada dalam daerah rawan banjir. Banjir Jakarta sekarang adalah produk hasil kesalahan managemen sistemik perencanaan tata ruang kota, tata kelola air, dan tata kelola penduduk dari hulu ke hilir. Aspek pembangunan tidak disandarkan pada aspek keberlanjutan dan ramah lingkungan. Pembangunan yang sangat terkonsentrasi di Ibukota Jakarta melahirkan arus urbanisasi besar dari seluruh Indonesia. Ketiadaan daerah layak huni menyebabkan timbulnya hunian-hunian di daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan air. 

Solusi banjir Jakarta tidak hanya untuk jangka pendek berupa penurunan jumlah titik banjir, namun upaya integratif bersaman pemda sekitar DKI yang terkait. Terutama pemda yang memiliki hak administratif di sepanjang wilayah DAS. Komponen kepemerintahanlah yang wajib mengelola segala sumber daya ini. Karena aspek pembangunan di hulu dan di hilir akan memengaruhi sistem ekologi akuatik sungai, sifat fisis, dan ekosistem sungai. Pembangunan kanal dapat mengurangi titik banjir dengan syarat kanal mampu mengalihkan sejumlah debit air menuju muara. Pengerukan sedimen di sungai wajib dilakukan untuk menambah daya tampung sungai dalam jangka pendek.  Hal penting lainnya adalah konversi daerah bantaran sungai menjadi daerah hijau. Adanya pemukiman di bantaran sungai menurunkan kemampuan bantaran sungai dalam mengalihkan aliran air akibat erosi sungai. 

Yang tak kalah penting adalah tindakan nyata masyarakat itu sendiri dalam mengelola lingkungan. Tanpa adanya kesadaran masyarakat sebagai stakeholder persoalan banjir akan tetap menjadi masalah klasik. Di sini peran LSM dan mahasiswa sebagai agen perubahan enting untuk dilakukan. Mahasiswa sebagai pejuang lingkungan harus mampu mengedukasi masyarakat sekitar sebagai upaya pencerdasan kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan terkini. 

Tidak ada komentar: