Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 19 Mei 2012

Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Waktu...

Map of Indonesia
"Satu nusa.. Satu Bangsa... Satu bahasa kita.." Penggalan lagu tersebut mengingatkan kita akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Beraneka ragam suku, budaya, agama, dan tradisi tersebar di seluruh pulau. Kekayaan dan keanekaragaman budaya, hayati, dan sumber daya alamnya benar-benar menciptakan untaian-untaian zamrud hijau sepanjang katulistiwa. Rupanya untaian-untaian itu tidak cukup diikat dengan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa saja. Indonesia pun berencana lebih mengompakkan irama kerja dari Aceh hingga Papua. Ya, apalagi kalau bukan penyatuan waktu.


Faktor non-geografis terkadang mengalahkan segalanya

Indonesia, sebagaimana yang telah kita ketahui, terletak pada 95 BT hingga 141 BT dan 6 LU hingga  11 LS. Letak astronomis negara Indonesia yang sangat luas berimplikasi pada bervariasinya waktu. Menurut konvensi internasional setiap perbedaan 15 derajat berimplikasi pada perbedaan selisih waktu sebesar 1 jam. Akibatnya Indonesia secara geografis dapat ditebak memiliki 3 wilayah waktu lokal, yaitu WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT +7), WITA (Waktu Indonesia Tengah, GMT +8), dan WIT (Waktu Indonesia Timur, GMT 9+). 

Sejak zaman kolonial hingga kini (2012) telah terjadi 9 kali perubahan wilayah waktu (lihat Kisah Indonesia dan Zona Waktunya). Ekonomi selalu menjadi alasan dalam pengubahan zona waktu. Tercatat pada tahun 1987 Bali yang sebelumnya mengadopsi WIB (GMT +7) berganti menjadi WITA (GMT +8). Pertimbangannya adalah ekonomi. Hal ini dimaklumi sebab geliat pariwisata sedang meningkat, terutama kunjungan wisman dari Australia. Penggeseran zona waktu menjadi WITA dinilai menguntungkan perekonomian di Bali. Selain itu kepraktisan, keefektifan, dan efisiensi menjadi dasar pertimbangan pula. Bahkan pertimbangan politik digunakan dalam penetapan zona waktu (lihat Penyatuan Zona Waktu: Acuan, Sejarah, Manfaat). Khusus untuk Cina, motif ideologi sangat kuat. Hal ini yang mungkin menjadi dasar pengaturan waktu di Singapura dan Malaysia.

Faktor politik dalam beberapa tempat membuat orang pusing setengah mati. Mengapa bisa dikatakan demikian? Kiribati, salah satu negara yang dilintasi International Date Line (IDL), menggeser garis batas penanggalan menjadi kira-kira 1000 km ke arah timur. Sebelum dilakukan penggeseran kiribati terbelah antara Kiribati Barat dan Kiribati Timur. Kiribati Timur terlambat sehari dibandingkan dengan Kiribati Barat. Kebingungan ini lantas dipecahkan dengan menggeser IDL jauh ke timur. Hal yang sama pernah Samoa lakukan pada akhir tahun 2011 lalu (lihat Samoa skips Friday in Time Zone Change). Bahkan di perbatasan Cina dengan negara-negara eks-Uni Sovyet perbedaan bisa jauh membingungkan (lihat Time Zone).

Hatta Rajasa, Pionir penyatuan zona waktu Indonesia

Indonesian Time Zone
Yellow: GMT +7
Green: GMT +8
Light Blue: GMT +9
Publik sempat dikejutkan dengan penyataannya mengenai penyatuan zona waktu. Tiga zona waktu yang sekarang ada dilebur menjadi 1 zona waktu, Waktu Indonesia (WI, GMT +8). Hatta Rajasa berargumen, penyatuan waktu ini akan meningkatkan PDB Indonesia. 

Bagaimana tidak, 190 juta angkatan kerja bekerja bersama-sama dari Sabang hingga Merauke. Penghematan ini sangat dirasakan oleh pemain-pemain perbankan. Penyandang dana dari wilayah timur Indonesia tidak perlu berlama-lama menunggu transaksi dengan rekannya di sebelah barat. Begitu pula dengan Jakarta. Jakarta tidak perlu menunggu 1 jam untuk bertransaksi dengan rekannya di Singapura. Turis-turis Singapura yang berada di Batam tidak perlu balik ke negaranya lebih awal (lihat Hatta: Satu Zona Waktu Banyak Untungnya).

Implikasi sosial kebijakan penyatuan waktu: sebuah bayaran sosial yang mahal

Masyarakat secara garis besar terpecah ke dalam 3 kubu: pro, kontra, dan abstain. Hal ini sudah jamak diketahui di situs-situs, jejaring sosial, berita, kampus, kampung, obrolan di tepi jalan, dan lain sebagainya. Terlepas dari pro-kontra yang terjadi di masyarakat, pasti sebuah dampak sosial yang besar akan terjadi. Karena waktu di seluruh negeri mengacu ke GMT +8, maka wilayah WITA otomatis tidak terpengaruh. Begitu pula dengan wilayah yang masih berdekatan dengan WITA. Wilayah-wilayah yang relatif jauh dari WITA akan merasakan dampak yang besar.

Menurut banyak pemberitaan jam kerja akan tetap dimulai seperti biasa. Ansumsikan kerja dimulai pada pukul 7 pagi, istirahat pada 12 siang, dan pulang pada jam 4 sore. Dengan kata lain jam kerja tetap seperti yang ada. Hal ini berlaku di seluruh negeri. Akan tetapi, pada wilayah WIB dan WIT terjadi anomali. Di wilayah WIB pada kondisi pukul 6 pagi dinyatakan sebagai pukul 7. Sebaliknya wilayah WIT pada kondisi 8 pagi dinyatakan sebagai pukul 7. Penduduk Indonesia barat akan sangat terburu-buru dalam melaksanakan aktivitasnya. Bagaimana tidak, waktu Salat Subuh baru saja usai dan orang-orang harus pergi ke kantor. Hal yang kontras terjadi di wilayah WIT. Penduduk Indonesia timur seakan memiliki 'waktu tambahan' untuk berleha-leha di rumah. Secara kasarnya, penduduk barat 'terburu-buru' dan penduduk timur 'berleha-leha'.

Penganut agama Islam akan merasakan dampak yang signifikan. Hal ini terjadi karena berimplikasi serius dengan jadwal salat. Pengaturan jadwal salat yang berpatokan dengan matahari menjadi sangat tidak sinkron di wilayah barat dan timur. Bisa dibayangkan istirahat dimulai pada pukul 12 siang. Padahal pada waktu tersebut di wilayah barat belum ada yang memasuki waktu Zuhur. Pada akhir jam istirahat malah waktu Zuhur datang. Efektivitas kerja yang didengung-dengungkan oleh Hatta Rajasa menjadi tidak berarti ketika dihadapkan dengan kenyataan teknis di lapangan. Memang benar waktu salat berubah-ubah. Namun, pergeseran permulaan waktu salat pada area tertentu hanya pada pukul itu-itu saja, alias pada rentang waktu yang dapat diprediksi (perhatikan jadwal salat selama 1 tahun pada daerah Anda, atau lihat PKPU Jadwal Salat)

Sektor keamanan lokal untuk wilayah barat dan timur juga harus bekerja lebih keras. Sebab, di wilayah barat kesibukan justru dimulai pada saat keadaan masih gelap. Hal sebaliknya terjadi di wilayah timur, saat hari sudah cukup malam masyarakat masih beraktivitas cukup padat. Implikasi pergeseran waktu tdak berhenti sampai di sini. Walaupun semua sistem telah disesuaikan dengan pengaturan terbaru, jam biologis penduduk Indonesia tidak bisa dibohongi. Hal ini tentu dapat memicu stres yang berkepanjangan.

Mengapa Malaysia dan Singapura tidak mengalami masalah yang signifikan? Hal ini dapat dijawab dengan letak astronomis kedua negara yang relatif masih dapat berada dalam 1 zona waktu. Keadaan ini yang tidak terjadi di Indonesia. Sehingga penerapan 1 zona waktu untuk kedua negara ini merupakan langkah yang efektif. Selain itu, mereka tidak memulai aktivitas kerja pada pukul 7, melainkah pada pukul 8. Tentunya ini sangat cocok dengan kondisi alamnya. Sebab, saat jam menunjukkan pukul 8 suasana di luar tepat seperti pukul 7 (khusus di semenanjung Malaya dan Singapura).

India memilih 1 zona waktu saja untuk seluruh negeri. Secara astronomis, India seharusnya berada dalam minimal 2 zona waktu. Akan tetapi sebagian besar negara India berada pada 1 zona waktu. Hanya sedikit wilayah India yang berada di zona waktu yang berbeda. Sehingga, India memutuskan untuk menggunakan 1 zona waktu saja. Cina walaupun memiliki 1 zona waktu, setiap wilayah lokal memiliki aturan waktu sendiri. Mereka pun tidak bersamaan kerja dalam 1 jam yang sama. Bisa dibayangkan, saat di Beijing sudah menunjukkan pukul 7, di Xinjiang masih menujukkan suasana pukul 4 pagi (secara formal tetap dinyatakan jam 7).

Penyatuan Zona Waktu: Sebuah langkah besar

Penyatuan zona waktu adalah sebuah langkah besar dan boleh dikatakan sebagai prestasi dari pemerintahan SBY yang kedua ini. Dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan, ada baiknya penyatuan zona waktu ini harus dilihat dari berbagai aspek. Aspek sosial tentu sangat dipengaruhi oleh adanya pergeseran waktu. Sosialsiasi menjadi senjata utama pemerintah dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi publik mengenai kebijakan ini (lihat Penyatuan Zona Waktu Diperkirakan Kuartal IV 2012).

Ritme Sirkadian Suhu Tubuh Manusia
Manusia melaksanakan aktivitasnya berdasarkan paparan sinar, terutama sinar matahari. Hal ini disebabkan oleh faktor jam biologis tubuh manusia berkaitan erat dengan keadaan sekitar. Jam biologis ini tidak dapat dibohongi. Adanya paparan sinar matahari meningkatkan suhu tubuh manusia. Saat seseorang bepergian ke zona waktu yang berbeda 1 jam saja terkadang orang bingung dengan zona waktu baru. Hal ini terjadi akibat jam biologis masih menyesuaikan kondisi sekitar. Stres ini tidak berkepanjangan apabila dia telah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Yang menjadi permasalahan dalam konteks pengubahan zona waktu adalah tetapnya penentuan awal jam kerja ketika suasana lingkungan kerja berubah dan ini terjadi secara terus-menerus. Tentunya stres akan sangat mudah menghinggap.

Menilik dari latar belakang keingingan Hatta Rajasan menyatukan zona waktu Indonesia, maka penyatuan zona waktu bukanlah solusi yang tepat. Penyatuan zona waktu tanpa diiringi dengan pengaturan lapangan yang tepat malah menimbulkan stres sosial di wilayah barat maupun timur. Padahal wilayah barat adalah sentra ekonomi dan pemerintahan Indonesia. Keinginan mendorong perekonomian Indonesia hendaknya dimulai dari pengaturan waktu manusia Indonesia sendiri.

Telah menjadi rahasia umum bila dikatakan manusia Indonesia adalah manusia karet. Bukan berarti orang Indonesia hebat seperti bajak laut di Manga One Piece. Akan tetapi jam karet. Jam karet inilah yang menyebabkan banyak peluang-peluang usaha hilang dan produktivitas manusia Indonesia yang lemah. Alasan untuk menyamakan waktu transaksi  perbankan penulis menilai tidak tepat. Sebab, berkaca pada Amerika Serikat (4 zona waktu) tetap memiliki kekuatan ekonomi yang kuat. Terlepas dari keadaan kontemporer kedua negara, Amerika Serikat unggul dalam 1 hal: pemerataan pembangunan. Hal inilah yang menyebabkan aliran uang tidak harus terfokus di wilayah timur Amerika. Hal ini yang rupanya tidak Indonesia lihat. Indonesia, terlepas dari zona waktunya sekarang, apabila perekonomian di wilayah timur dikembangkan maka PDB Indonesia tetap akan meningkat seperti harapan Hatta Rajasa.

Prolog: Tidak perlu memakai jam yang sama, etos yang samalah yang kita butuhkan

Untaian zamrud khatulistiwa memang sangat unik. Berbagai suku, bangsa, agama, ras, kebudayaan bertaburan di seluruh manik-manik hijau ini. Potensi SDA yang melimpah dan SDM yang banyak menjadi modal yang kuat bila dikelola dengan baik. Keinginan untuk bersatu memang perlu untuk memperkokoh persaudaraan sesama pribumi Indonesia. Keinginan untuk bersatu untuk memajukan bangsa dan negara patut diapresiasi tinggi. Namun, adakalanya keinginan ini harus dikontrol agar tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan pada tingkat teknis. Etos kerja bangsalah yang harus dipupuk. Etos kerja tidak membutuhkan jam yang sama, namun membutuhkan spirit juang yang sama. Spirit juang untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Tidak ada komentar: