Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 19 Desember 2011

Ketika Senja Tak Lagi Tersenyum (Bagian 1)

Sabtu, 7 Mei 2011 14.30 Rumah Alif, Serang Banten


'"Abiii...." Fajar meringsek ke pelukan ayahnya yang baru saja pulang dari sekolah. Ayah Fajar adalah seorang guru kimia di salah satu sekolah favorit di Serang, Banten.
"Hmm???" Alif, ayah Fajar, segera mengangkat anaknya yang masih berusia empat tahun itu. Walaupun badan terasa letih, Alif tetap memberikan senyuman terbaiknya kepada anak pertamanya.

"Abiii... ayoooo ke Krakatau...." rengek Fajar.
"Tumben mau jalan-jalan ke situ, sayang..." Alif membelai lembut dan mencium kening putranya. Tak lama kemudian sang isteri pun datang.
"Eh, Abi sudah pulang..." Nurul, isteri Alif, datang dan membantu Alif membawakan barang-barangnya. Sementara itu, Fajar terus saja bergelayut penuh manja dalam pelukan ayahnya.
"Manja sekali anak Abi ini..."



"Iya!!!" Fajar tersenyum riang dan mencubit-cubit hidung Alif. Alif pun tertawa.
"Abi, itu si Fajar dari tadi pagi minta kalau dia mau ke Krakatau. Dia ngambek katanya kalo nggak ke sana," Nurul sejurus kemudian sudah duduk di antara Alif dan Fajar.
"Kenapa ya?"
"Yaa... abiiii... yaaaa!!!" Fajar terus merengek dan bergelayut di lengan Alif.
"Iya.. iyaa.... tapi itu kalo adek udah hafal surah Al 'Alaq yaa..." Alif melepaskan Fajar dari lengannya dan kemudian mendudukkannya di dekat ibunya.
"Hee heeh! Iyaaa! Fajaaar hapaaliiin!" Fajar mengangguk tegas. Alif tersenyum melihat polah anaknya yang sangat menggemaskan. Begitu pula dengan Nurul. Nurul membelai lembut tengkuk anaknya itu. Nurul kemudian berbisik.
"Fajar... Ummi udah siapin makan dari tadii... ayo dimakan..."
"Makaan??? Makaan apa ummi???" Fajar menengok ke arah ibunya dengan penuh harap. Sepertinya berbagai jenis ayam goreng, sayur lodeh, sate ayam, nasi goreng, chiki, permen dengan cepatnya berkelebat memenuhi benaknya yang kecil itu.
"Ada sayur asam sama ayam goreng..." Nurul tersenyum dan mencubit kecil pipi Fajar yang sangat chubby itu.
"Yaaahh... sayuuurr.... Abiii.... Fajar gak suka sayuuur!" Fajar merengek dan memasang tampang memelas ke wajah ayahnya.
"Katanya Fajar mau cepet ngafalin Quran, katanya juga Fajar mau pinter kayak Abi bisa kimia... "
"Iya sih abii.... tapi rasa sayur aneeh... Abii...."
"Kan udah dimasakin ummi biar jadi enak... Daripada kamu kayak sapi? Mau makan rumput langsung? Gak pake bumbu?"

"Heehehehehe..." Fajar tersipu malu....
"Ayo, Jar.. Makan... Nanti ummi suapin." Nurul kemudian menggenggam tangan Fajar dan mengusap-usapnya.
"Iya ummii... Makaaaaan!" Fajar kemudian langsung berlari ke arah dapur. Tak lama kemudian suara dentangan piring beradu dengan sendok bak malam idul fitri pun terdengar.
"Fajaar.. fajaar.... kalau sudah ada maunya aja... gaaak mau ngalah..." Alif bangkit dan menuju kamarnya. Nurul pun mengikuti suaminya tersebut.
"Semoga dia jadi kakak yang baik.... dan menjadi qurrata a'yuunun" Nurul kemudian mengusap perutnya yang sudah  membesar. Kata dokter dua bulan lagi adiknya akan lahir.
"Insya Allah..." Alif mencium perut isterinya dan membelai mesra.
"Ayo Abi. Abi ikut makan."
"Iya ummi... Abi ganti baju dulu..."
"Ummi tunggu di ruang makan..."
Kecupan Alif menyudahi sementara percakapan kedua pasangan muda tersebut. Saat Alif berada di kamarnya, Alif melihat ada sesuatu yang tak biasa. Buku-buku bacaannya agak berantakan. "Ah paling itu ulah si Fajar," pikir Alif. Setelah berganti pakaian Alif kemudian merapikan buku-buku yang berantakan tersebut. Sebelum Alif sempat membereskan semuanya, matanya tertuju pada sebuah buku yang terbuka. Buku tua itu peninggalan ayahnya yang mengisahkan kejadian yang memilukan di masa lampau. "Apa ini yang dibacanya sampai-sampai dia merengek-rengek minta ke sana?". Tanpa pikir panjang, Alif membereskan semuanya dan segera 'memadamkan kerusuhan' di meja makan yang dibuat oleh Fajar, anak pertamanya.

Tidak ada komentar: